Suara Ardan Fitriansyah Tuturan Panjang Sastra Serkap
Ilustrasi oleh: Irvan Bisri

Suara

23 Agustus 2026
tuturan panjang

Jakarta, 2012

Malam itu siaran berjalan seperti biasanya. Atau setidaknya, begitulah yang ingin kupercayai. Lampu merah kecil bertuliskan On Air menyala tenang. Di hadapanku, mikrofon berdiri tegak—benda kecil yang selama dua tahun terakhir lebih sering menemaniku dibanding kawan-kawan sejawat sendiri. “Selamat malam, Listeners, kembali lagi bersama Galih Winata di Late Nite,” ucapku lalu jeda satu napas. “Selamat datang juga untuk Listeners yang baru bergabung”. Kalimat itu hampir selalu sama. Kadang kugeser sedikit, sekadar agar tidak terasa usang dan membosankan.

Program ini dulu milik orang lain. Seorang kawan, penyiar sekaligus musisi jazz, dengan suara yang lembut seperti saksofon di kaset rekaman zaman dulu. Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Pendengar mencintainya. Aku tidak. Maksudku, aku tidak pernah punya cara seperti itu. Tapi, karena ia terlalu sibuk dengan panggung-panggungnya, akhirnya aku datang menggantikan—atau mungkin hanya mengisi program yang ditinggalkannya.

Late Nite memang dibuat untuk orang-orang yang tidak bisa tidur—atau tidak ingin tidur. Mereka yang membawa sesuatu yang terlalu berat untuk pagi hari. Ada yang patah hati dan curhat sesenggukkan, ada remaja iseng, ada yang gemar request lagu. Aku tidak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. Nama bisa palsu, cerita bisa dilebih-kurangkan. Namun, suara jarang berbohong.

Malam itu berjalan seperti biasa. Sisa kopi setengah gelas, siomay yang mendingin di bawah AC, dan kota di luar jendela yang tampak seperti sedang melepas napas. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berpura-pura diam. Ruas jalanan ibu kota tampak lengang. Beberapa lantai gedung lain masih menyala lampunya. Aku takjub dengan kota ini, setiap harinya ia hanya pasrah menampung puluhan atau mungkin ratusan ribu (aku tak tau pasti) orang yang mengadu nasib. Mereka yang rela bermacet-macetan di jalan, berdesakan di angkutan umum, dan barangkali mengalami hari buruk. Akan tetapi, malam ini ternyata tak sama seperti malam-malam panjangku kemarin. 

Menjelang akhir siaran, aku membuka jalur telepon. Salah seorang pendengar menelepon dan meminta diputarkan Reptilia dari The Strokes. Pilihan yang bagus menurutku, aku juga suka The Strokes, apalagi melihat bagaimana Julian Casablanca tampil sembrono namun tetap disukai banyak orang.

Pukul 23.45, tepat setelah Albert Hammond Jr. menutup lagu dengan solo gitarnya, sebuah panggilan muncul. Aku sempat menundanya. Operator radio tidak masuk malam ini—katanya sakit maag. Jadi semua harus kuurus sendiri. Ketika akhirnya kuangkat, suaraku masih terdengar biasa.

“Selamat malam, ada yang ingin disampaikan?” tanyaku santai.

Hening sebentar.

“...halo?”

“Iya, halo”

Suara berdebum terdengar di seberang sana, kemudian hening sebentar. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padanya.

“Tolong…saya,” napasnya memburu. Awalnya kuanggap ini telepon iseng. Namun, setelah mendengar napas dan suaranya tersengal-sengal, aku mulai sedikit panik.

“Saya ada di….AAAAaaaaaAAAAAA”

Sambungan terputus.

***

Pagi datang tanpa benar-benar kusapa seperti biasa. Aku tidak bisa beristirahat barang sejenak. Setiap kali memejamkan mata, suara itu kembali—terputus, terburu-buru, seolah berlari-lari di kepalaku. Aku akhirnya menyerah dan menelan pil tidur menjelang subuh.

Ketika terbangun, jam memberi tanda bahwa sudah lewat tengah hari, pukul 13.12. Aku masih punya waktu untuk siaran nanti malam. Kepalaku masih berat. Aku terpikir ide untuk cuti mendadak. Segera aku menghubungi produser untuk izin, biasanya izin tak bisa di hari yang sama. Aku berdalih dengan alasanku seadanya—alergi, kelelahan, apa pun yang terdengar cukup masuk akal. Ia tidak banyak bertanya. Hal yang terpenting sekarang adalah aku dapat menikmati hari libur dadakan. Aku pun tak peduli siaran nanti akan diisi apa dan siapa, tetapi setidaknya aku bisa rehat dari rutinitas–apalagi setelah kejadian aneh semalam.

Hari itu terasa panjang dan kosong. Aku mencoba mengisinya dengan hal-hal ringan—bermain game, tidur-tiduran, menonton acara gosip televisi tanpa benar-benar menyimak. Akan tetapi, di sela-sela itu, suara semalam sesekali muncul, bagai siaran yang tidak bisa dimatikan. Menjelang malam, kawanku si musisi mengabari bahwa ia akan tampil di sebuah lounge di Kemang. Tanpa banyak pikir, aku memutuskan datang. Barangkali aku hanya butuh keramaian.

Jujur saja, kepalaku sudah tak kuat dengan kejadian tadi malam. Entah, mungkin karena suara orang itu gemanya memenuhi otakku. Setelah jalan sebentar ke jalan besar, aku melambaikan tangan ke arah taksi yang kebetulan lewat. Kilatan petir nampak di arah selatan, tanda hujan mungkin akan turun. Aku segera naik dan berucap tujuanku yang berada di daerah Kemang.

Benar saja, ketika taksi memasuki daerah ASEAN, hujan lebat menerpa. Hujan yang meminggirkan para pemotor, penjual asongan, tapi tidak untukku. Air sedikit menggenangi jalanan. Aku tidak cemas akan hujan, tidak pula dengan telepon misterius itu. Justru aku sudah tak memikirkannya ketika taksi menepi di tujuanku.

Tempat yang kudatangi bernama Harmonie Lounge and Dining. Tampak depannya megah dengan gaya retro ala 1950-an. Dari penampilan pengunjung, mereka terkesan old money dengan selera tinggi. Aku tak gentar, aku juga sama seperti mereka. Mungkin untuk poin kedua. Ketika masuk, aku bilang pada security bahwa aku ada urusan dengan salah satu penampil. Langsung saja ia menyilakan aku melenggang masuk tanpa harus antri panjang. Enaknya punya teman orang penting, segala urusan terasa mudah.

Pukul 22.00, temanku memulai penampilannya. Ia diiringi oleh beberapa orang yang memainkan saksofon, trombon, dan drum. Ia sendiri memegang piano, sementara aku memegang segelas wiski yang sedikit-dikit kuhabiskan. Lumayan, wiski mahal, jarang bisa minum yang beginian. Setelah kuperhatikan temanku ini, ia lihai dalam permainan instrumennya. Dengan improvisasi yang harmonis serta pesonanya, ia mampu membuat seluruh penonton terkesima selama pertunjukan dan bertepuk tangan setiap kali lagu berakhir.

Usai penampilannya, aku mendekati temanku dan mengucapkan selamat atas keberhasilannya.

“Hei, Penyiar kebanggaan ibu kota, apa kabar?”

“Hehe, seperti yang lu liat.”

“Bukannya malam ini lu harusnya siaran, ya?” tanyanya sembari meminum wiski.

“Ohh gua cuti, nyempetin buat nonton lu.”

“Terbaik memang kawan gue, oke gue ke sana dulu, ya”

Sungguh sebal rasanya melihat teman yang awalnya memulai karir bersama namun sekarang lebih melejit. Semoga saja aku juga bisa melenting seperti dirinya nanti. Ayolah malam, beri aku sesuatu yang berbeda dari malam-malam biasanya.

***

Pukul 23.00, aku menuju pulang setelah setengah teler. Malam yang penuh keseruan mendengar alunan jazz yang membelai telinga. Berhati-hatilah ketika kau meminta sesuatu kepada semesta. Kukira malam telah redup seperti di Harmonie tadi, ternyata memang Jakarta tak pernah tidur.

Begitu aku turun dari taksi, aku berjalan gontai menuju minimarket untuk menikmati suasana malam libur. Jaraknya hanya dua setengah kilometer dari indekosku. Hitung-hitung olahraga sambil mengatasi pengar. Seseorang bertubuh tegap dengan jaket kulit di dekat pintu minimarket menatapku singkat, kuhiraukan saja. Setelah habis sebatang rokok, aku berjalan santai ke indekos. Iseng kulihat jam, pukul 23.40. Hampir tengah malam.

Tidak ada warung buka. Tidak ada suara televisi dari pos ronda. Bahkan anjing pun tidak menyalak seperti biasanya. Tanpa kusangka, dari arah belakang ada yang menghantam kepalaku dengan keras. Aku jatuh, kehilangan arah sesaat. Ketika menoleh sambil menyeimbangkan tubuh, lelaki itu sudah berdiri di belakangku. Wajahnya samar, tapi cukup dekat untuk membuat napasku tersendat.

Segera aku ambil seribu langkah agar dapat menghindar dari kejaran orang sinting itu. Aku ambil jalan pintas untuk segera sampai indekos. Mengapa jalan terasa lebih panjang dari biasanya? Napasku terputus-putus. Jantungku seperti ingin meletus mendengar derap langkahnya. Aku mencoba menelepon nomor darurat yang kutahu. Entah karena pengaruh alkohol, atau kebanyakan nonton film barat, nomor yang kutekan 911. Salah. Goblok. Aku mengumpat dalam hati.

Aku yang berpikir cepat segera menelepon nomor yang kuingat di luar kepala, stasiun radio tempatku bekerja. Ayolah, cepat. Ia semakin mendekat.

Tersambung!

“...halo”

“Iya, halo,” jawab suara di sana.

Suaranya sangat kukenal. Suaraku sendiri! 

Seketika semua runtuh di dalam kepalaku, bersamaan dengan pukulan yang menghantam belakang kepalaku. Sepersekian detik aku kemudian, tangan kasar mencengkram kerahku. Pisau dingin menyentuh kulit leher. Gelap mulai turun dari tepi penglihatanku. Di ujung kesadaran, aku masih mendengar suaraku sendiri dari telepon—terdistorsi, terputus, seperti datang dari tempat yang jauh.

“tolong…saya,” pintaku. Perlahan air mata merembes dan terasa di daun telingaku.

Ia merogoh kantongku, berusaha mencari dompet.

“Saya ada di….AAAAaaaaaAAAAAA”

Kalimatku tidak selesai. Perlahan kurasakan cairan hangat merambat di leherku. Kesadaranku mulai sirna. Tolong aku. Suara semalam. Bukan orang lain. Tapi aku. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak didengar.