Sebuah Cerita Lanjutan yang Diminta Anakmu

Sebuah Cerita Lanjutan yang Diminta Anakmu

12 Juli 2026
tuturan panjang

Sebab tak bisa tidur, anakmu meminta diceritakan dongeng; dan sebagai ayah yang berusaha baik, meski sering kali tak sesuai harapan, kau iyakan permintaannya. Mendengar jawabmu, betapa senang hatinya; dan dibanding dengan makanan, pakaian, atau boneka-mainan, anakmu terlampau suka pada dongeng yang dibaca-didengarnya. Maka, kau bertanya kepadanya, mau didongengi apa. Dan betapa terkejutnya kau saat ia memintamu untuk melanjutkan cerita yang sempat kau ceritakan dulu: lanjutan dari kisah penebang kayu yang jujur…

Dan kau yang tak ingin mengecewakannya, mencari akal; lantas memintanya mencuci kaki dan sikat gigi lebih dulu; sehingga bisa kau pikirkan lanjutan cerita itu, yang sebenarnya tak pernah benar-benar ada—dan kini harus diadakan olehmu. Karenanya, dengan lekas, digenapinya pintamu itu; dan dengan kemampuanmu, dengan kehormatan sebagai seorang yang mendaku sebagai penyair-pengarang, kau berpikir tentang lanjutan dari cerita itu.

"Sudah, Yah. Ayo, ceritakan lanjutannya…"

"Baiklah. Kemarilah."

 

Maka, dalam dekapmu, kau ceritakan kisah lanjutan yang kau buat itu.

Suatu hari, seorang penebang kayu tak sengaja menjatuhkan kapaknya ke danau; dan tak dapat ia ambil, sebab begitu dalam. Dengan penuh kesedihan, ia duduk di pinggir danau itu, meratapi apa yang jadi nasibnya. Betapa sedih ia, sebab tanpa kapak itu ia tak dapat bekerja; dan untuk membeli kapak baru betapa uangnya tak genap cukup.

Dewi penunggu danau mendengar tangis itu; dan jadi iba. Maka, sang Dewi menampakkan diri kepada si penebang kayu. Terkejutlah si penebang kayu; sebab mendapati sosok ayu di depan dirinya. Dan sang Dewi pun mengeluarkan sebuah kapak emas; lantas berkata:

"Inikah kapakmu?"

"Bukan, Dewi," jawab si penebang kayu dengan gemetar.

Sang Dewi mengeluarkan kapak lain, kapak perak; dan kembali bertanya—

"Inikah kapakmu?"

"Maaf, Dewi. Namun bukan."

Sang Dewi mengeluarkan kapak sebenarnya; dan betapa senang si penebang, sehingga lebih dulu berkata, itu adalah kapaknya, itu adalah kapak yang amat ia sayangi dan rawat setiap hari. Sang Dewi tersenyum, kagum pada penebang kayu itu; dan dengan lekas menghadiahkan dua kapak yang sebelumnya ditawarkan pada si penebang kayu. Dan betapa senang si penebang kayu—sebab mendapat dua buah kapak baru…

"Terima kasih, Dewi…"

"Ya," ucap sang Dewi, "itu adalah hadiah dari kejujuran dan ketulusanmu."

Saat beristirahat di sebuah kedai, ada seorang yang bertanya kepada si penebang kayu, dari mana didapatnya dua kapak baru itu, dua kapak yang begitu indah-berkilau, seolah bukan dari dunia itu. Maka, sang penebang kayu, yang baik dan jujur, menceritakan kisahnya. Dan, sebab ingin seperti itu, seorang itu melakukan hal yang sama: menjatuhkan kapak perunggu di danau yang dalam itu. Namun, saat muncul sang Dewi, dan menunjukkan kapak emas, seorang itu segera saja mengiyakan: yang berarti dia berbohong. Karena tahu seorang itu berbohong, sang Dewi malah tak mengembalikan kapaknya.

 

"Ya, Yah," ucap anakmu. "Kemarin Ayah sudah bercerita sampai sini. Sekarang lanjutannya…"

"Baiklah. Baiklah. Akan Ayah lanjutkan."

Seorang itu kembali ke kedai dan menceritakan kisahnya ke si penebang kayu; dan sebab tahu hal itu, si penebang kayu jatuh iba, sebab seorang itu kehilangan kapak satu-satunya. Maka, diberikanlah kapak perak kepada lelaki itu; dan berkata:

"Ini untukmu, Saudara. Betapa saya tak butuh tiga kapak; hanya butuh sebuah. Dan tentu, Saudara lebih butuh. Dan kapak emas ini, mau saya jual. Hasilnya mau saya berikan kepada yang membutuhkan, juga kepada rumah ibadah yang mengasuh anak-anak yatim."

Mendengarnya seorang itu kaget dan kagum. Dengan perasaan yang haru, ia bertanya pada si penebang kayu, kenapa tak pakai uang hasil penjualan itu untuk dirinya sendiri, untuk modal usaha atau berdagang, sehingga bisa hidup mapan dan kaya.

"Dengan menebang kayu, yang tak terlalu banyak," ucap penebang kayu, "saya sudah dapat hidup cukup, sudah tak merepotkan siapa pun; bahkan bila berpuasa, saya bisa menyisihkan lebih banyak untuk berderma. Namun, bila kapak saya hilang, tentu saya akan sangat kerepotan untuk bekerja, mencari uang untuk makan, atau berbagi dengan yang lain."

Mendengar itu, seorang itu semakin malu kepada si penebang kayu; dan merasa begitu beruntung bisa berjumpa dengan penebang kayu yang tulus dan jujur. Maka, pada si penebang kayu, disampaikan kabar bahwa di negeri asalnya, di negeri Tenggara sana ada sayembara; dan seorang begitu yakin, si penebang kayu bisa melaksanakan sayembara itu: sebab hanya orang yang tulus dan jujur yang bisa melakukannya.

"Bukan untuk mendapatkan, Tuan," ucapnya begitu dalam. "Namun untuk menolong…"

Si penebang kayu mendengarkan; dan memantapkan diri berangkat ke sana.

 

"Lalu, bagaimana, Yah, sayembara dan perjalanannya?" tanya anakmu sambil menguap.

"Untuk sekarang, tidurlah dulu. Dan akan Ayah lanjutkan esok, ya…"

Anakmu mengikut, sebab rasa kantuknya makin kuat dan dalam; dan tidak butuh waktu lama ia terlelap dalam tidur. Setelahnya, kau ambil selimut, menyelimutinya; dan mengecup lembut keningnya.

Kemudian, saat hendak kembali ke meja kerja untuk menyelesaikan sebuah esai ulasan, permintaan sebuah media, kau menatap cermin: melihat wajah sendiri. Kepadanya, kepada pantul cermin itu, kau bertanya: "Apa kau sudah bisa jujur dan tulus pada diri sendiri—seperti penebang kayu itu, Bung?"

Di depan meja kerja, kau ingat ucapan perempuan itu, ucapan istrimu, ketika masih mengandung dan meminta mendongenginya sebelum tidur: "Mas, mana yang lebih penting, akhir cerita atau kanak yang lekas tertidur dan bangun pagi dengan gembira menanti malam tiba untuk lanjutan cerita?"

Dan kepadanya, kau ingin berkata: "Aku sudah tahu jawabannya, Dik, tetapi kau ada di Sana…"

           

(2020—2026)