Ilustrasi - Raison d'etre
Ilustrasi oleh: Joan Cornella

Raison d'etre

2 Agustus 2026
tuturan panjang

Dalam perjalanan pulang di pesawat, aku kembali merisaukan nasib teman-temanku. Wajah mereka ramah, tetapi bisa seketika mengeras. Mereka datang dari warna kulit dan bahasa yang beragam, tetapi duduk melingkar seolah saling memahami tanpa perlu banyak kata. Mereka tahu hidup di tempat berbahaya—dan entah bagaimana, tetap tenang. Semoga mereka baik-baik saja.

Enam bulan lalu, aku tiba di bandara internasional yang namanya singkat. Kemayoran. Sepanjang perjalanan udara, aku tidur dan sesekali terbangun karena guncangan. Perjalanan dari Bogotá terasa seperti memutar dunia—singgah di beberapa kota sebelum akhirnya tiba di Jakarta.


Dari jendela pesawat, kulihat garis pantai panjang dan daratan yang rimbun. Pulau itu bernama Jawa. Kedatanganku ke negeri yang jauhnya hampir 20.000 kilometer ini adalah untuk pertukaran pelajar. Memang, sejak kecil aku hafal berbagai negara di dunia beserta ibukotanya, mulai dari Mesir, India, Palestina, sampai Indonesia. Sebut saja. Bukan karena aku anak diplomat. Aku hanya tahu semua itu melalui peta dan buku-buku.


Setelah turun dari raksasa besi terbang itu, aku segera disambut oleh seseorang berambut klimis dan berkemeja santai, celananya pun rapi. Ia memegang papan bertuliskan “Colombia Student”.


“Mister…Jose?” tanya orang itu memastikan.


“Yes,” langsung saja aku menjabat tangannya yang kasar.


“Welcome to Indonesia. Let me guide you to your dorm,” ucapnya, senyumnya ramah dan gesturnya sopan seolah aku adalah tamu terhormat. 


Sintas mendengar ucapannya, secara fonetik–cabang ilmu linguistik yang mempelajari bunyi bahasa–aksen orang ini agak tebal dalam pengucapan konsonan ‘d’. Aku sekilas memperhatikannya. Menurutku bahasa Inggrisnya lebih bagus ketimbang orang-orang kebanyakan. Tak ada masalah. Ucapannya jelas, hanya itu yang dibutuhkan dalam komunikasi.


Kami segera masuk mobil dan meninggalkan bandara, menuju kampus tempatku belajar nanti. Sepanjang jalan, kurasa kota ini mirip dengan kota tempatku dibesarkan. Angin bertiup lembut, sekali-dua mengibas rambutku. Udara Jakarta terasa seperti berdiri di dekat tungku. Jalanan menuju kampus cukup lengang. Orang-orang berlalu lalang dengan tiap kesibukannya. Ada yang memikul dagangan, ada yang membaca koran, ada yang menjaga toko. Lelaki yang tadi menjemputku mendadak menjadi tour guide tanpa diminta. Aku kagum dengan inisiatifnya. Terlebih, ia fasih menjelaskan daerah setempat dengan bahasa Inggris, bahasa yang jadi bahasa ketiganya. Orang Indonesia berbicara dua bahasa, bahasa ibu mereka atau bahasa daerah dan bahasa Indonesia.


Gedung-gedung yang kulihat tak sebanyak di kotaku. Wajar saja, negeri ini belum lama bebas dari penjajahan. Meskipun bukan mahasiswa arsitektur, aku terpukau dengan pembangunan yang sedang gencar dilakukan. Dari penuturan lelaki yang menjemputku, Indonesia baru membangun stadion besar dan jembatan berbentuk clover. Upaya presiden pertama untuk unjuk gigi dalam perhelatan olahraga benua mereka–hampir satu dekade yang lalu. Untuk negara kecil yang baru belajar berjalan, berani betul.


***


Seminggu kemudian, setelah aklimatisasi dengan lingkungan di negara baru. Aku menyadari bahwa kehidupan kampus tak jauh berbeda, mahasiswa di sini banyak membaca. Selain itu, mereka juga tak menutup diri dari status eksklusifnya sebagai mahasiswa. Mereka berkumpul tanpa banyak batas, bersama wartawan, seniman, penulis, dan masih banyak lagi.


Namun, aku dibuat heran dengan seringnya mereka berkumpul dan berdiskusi. Tak setiap malam memang, jika tidak ada agenda kampus, mereka berkumpul. Bahkan, membuat agenda sendiri. Awalnya aku hanya mondar-mandir kelas dan kamar, kadang mencari tempat makan. Aku terkejut dengan cita rasa dan ragam makanan di sini. Ada masakan berkuah kuning keemasan agak encer dengan potongan daging sapi. Seperti Sudado De Res jika di negaraku, rasanya kompleks dan rumit. Ada pula daging ayam gurih yang disusun bertusuk dengan baluran saus kacang, konon kabarnya hidangan ini berasal dari pulau di seberang Jawa. Namanya Sate, mirip Cuzhos de pollo kupikir. Makanan di sini beragam. Aku tidak selalu tahu namanya, tapi hampir semuanya enak. Untuk rasa sepertinya tak ada masalah di negeri ini. Semua hidangan terasa nikmat karena untuk urusan bumbu mereka sangat kaya.


Sebulan berlalu, aku mulai akrab dengan beberapa orang di fakultasku. Mahasiswa di sini ternyata sangat giat belajar dan kritis. Indro– teman baruku–sering membantuku memahami banyak hal. Katanya, mahasiswa sini terpantik nalarnya memeriksa lebih jauh kebijakan pemerintah yang berkaitan erat dengan rakyat. Jujur saja, aku tidak terlalu dekat hal seperti itu. Menurut Indro, mahasiswa sini punya banyak wadah organisasi. Dari cerita Indro juga, beberapa tahun sebelumnya, gelombang aksi demonstrasi mengalir ke jalan-jalan. Mahasiswa berjaket kuning meluap di beberapa titik kota. Masih menurut cerita Indro, penggerak utamanya adalah seorang beretnis minoritas dari fakultas sebelah. Keren juga.


Aku tak terlalu memperhatikan kumpulan mana aku tergabung. Asal bersama Indro, kurasa semua baik-baik saja. Ketika bertemu teman-teman baru, aku duduk melingkar dan mengobrol apapun dengan mereka. Awalnya aku hanya mendengarkan, sesekali menjawab pertanyaan dari mereka yang penasaran dengan negara atau ceritaku. Sering kali ada kegiatan baca puisi, penampilan musik seadanya, terkadang diskusi serius. Namun, semua obrolan kembali ke muara yang menjadi keresahan mereka, negara. 


Dalam satu kesempatan, ada seorang penyair yang ketika menampilkan pembacaan puisi membuatku terpukau. Namanya Kusuma. Ia berasal dari sebuah kota di tengah pulau Jawa, Yogyakarta. Ia sangat ekspresif ketika membacakan puisinya. Walau aku tak begitu paham ketika pentas, tetapi aura dan sihirnya mampu membuatku duduk termangu menyaksikannya. Baru ketika pentas selesai dan Indro menjelaskan penampilannya, aku terperangah. Ternyata penampilan puisi bisa sedemikian menarik. Setelah aku mencerna tafsir Indro, aku mulai berpikir bahwa ia bukan sekadar membaca puisi. Ia seperti berorasi!


Pada bulan ketiga aku di Jakarta, Kusuma dan beberapa kawan hendak membuat sebuah acara besar. Beberapa orang bersemangat. Jujur saja, aku tak terlalu aktif terlibat, mungkin karena mahasiswa asing, aku hanya sembarang ikut mereka dalam berdiskusi–sesekali mengutarakan pendapat. Aku tak tahu pasti. Namun, satu hal yang membuatku heran adalah acara ini–yang kata Kusuma–adalah acara kebudayaan. Aku tak paham sebelum akhirnya Indro menjelaskan secara garis besar acara atau ritual budaya yang dimaksud. Mereka menyebutnya tirakatan.


Aku tidak sepenuhnya mengerti.


“It’s like tasyakuran,” jawab Indro dengan enteng.


“What is it? That’s a different activity?” sergahku. Aku tak paham. Kenapa ada istilah lain?


“My bad. No, it has the same meaning. That name was taken from Arab,” jelasnya. Aku sedikit tidak paham namun secara garis besar aku mengerti maksudnya. “We adopted several terms that related to muslim religious activity. Tirakatan was an Arab term too,” jelas Indro dengan perlahan. Unik sekali. Baru terlintas di kepalaku bahwa Indonesia dengan segala kemajemukan budayanya, mayoritas penduduknya beragama Islam.


Mereka hanya bilang: duduk bersama, diam, dan menunggu sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Unik sekali ide anak-anak muda ini. Aku tidak salah pergi ke negeri ini untuk belajar.


***


Pada suatu malam, ketika benda langit bersabit tipis mengawali bulan baru. Seorang mahasiswa Fakultas Sastra menempel pamflet di downtown, sekitaran Menteng. Isi pamflet berupa sajak-sajak. Itu merupakan pesan bahwa tirakatan sudah dekat. Hanya beberapa hari berganti, setelah ‘pamflet pengumuman’ tirakatan, kampus ramai membicarakannya. Setiap aku berjalan kembali ke asrama atau makan di kantin, kata ‘tirakatan’ sering muncul dalam pembicaraan orang-orang.


Namun, sebelum tirakatan tersebut benar-benar terjadi, awal Agustus aku sudah diharuskan kembali ke negaraku. Habis sudah masa pertukaran pelajar singkat ini. Sayang sekali. Aku hanya bisa berharap bahwa acara teman-temanku dapat berjalan lancar.


Hal yang membuatku gelisah sepanjang perjalan pulang adalah tentang informasi yang sebelumnya tak kuketahui. Ketika Indro mengantarku ke bandar udara, kami sempat berpamitan dan berjanji akan terus berkomunikasi. Ia juga memberi tahu bahwa teman kami yang mahasiswa Fakultas Sastra ditangkap polisi semalam.


“Unfortunately, police caught him in the middle of night,” ucap Indro sedikit kecewa.


“What’s wrong? ” Aku bingung. “Isn’t he just sticking up posters like advertisements?”


“I have no idea,” ucap Indro. Wajahnya bicara lain, ia mengetahui sesuatu.


“Just tell me.” 


Boarding masih 30 menit lagi. Selama 20 menit, aku mendengarkan cerita Indro mengenai tirakatan tanpa menyela. Ternyata, tirakatan yang hanya berjarak beberapa hari lagi mengundang perhatian banyak pejabat dan angkatan bersenjata. Sebab, kabarnya jumlah peserta mencapai 700 ribu orang. Gila. Mereka digadang-gadang datang dari seluruh penjuru Jawa, dari kota-kota lain seperti Surabaya, Yogyakarta, Bandung, sampai kota sekitar: Bekasi, Karawang, Tangerang, Depok, dan Bogor. Mereka akan memadati satu lokasi yang telah ditentukan. Pinggiran jalan M.H. Thamrin. Aku yang mendengar informasi tersebut bergidik merinding.


Dengan gamang aku berjalan di garbarata, tak terpikirkan olehku bahwa acara segelintir anak muda akan dihadiri ratusan ribu orang. Di kepalaku tergambar manusia yang tak terkira jumlahnya, kerumunan yang hening geming. Setenang selat Sunda yang baru saja kulewati.


Dua pekan setelah mendarat di Bandara El Dorado. Aku masih sibuk mengurus laporan pertukaran pelajar. Sore hari, setelah benar-benar menunaikan kewajiban laporanku terhadap kampus, aku kembali ke rumah dan melanjutkan hidup di Bogotá. Tanpa aku sadari, sepucuk surat tergeletak di meja makan, setelah kulihat ternyata dari Indonesia. Dalam surat tersebut, tak banyak tulisan. Hanya salam dan beberapa kalimat penghibur–di bawahnya ada nomor telepon Indro.


Setelah santap malam, aku mencoba menelepon Indro. Di Indonesia kini pukul 09.00. Dalam suara yang tenang, Indro menanyakan kabarku sekembalinya ke Kolombia, pun sebaliknya. Rasa penasaran yang sudah menjalar membuatku menanyakan perihal tirakatan. Ia menceritakan tirakatan yang tak sempat kulihat. Begini kisahnya. Setelah kepulanganku, acara tirakatan masih menjadi berita nasional dan tudingan miring berkembang. Ada pejabat yang bilang acara tersebut ada kaitannya dengan komunis, upaya makar, dan hal-hal yang dianggap pemerintah Indonesia tidak pantas. Malam tirakatan, Thamrin yang telah dijaga ketat oleh angkatan bersenjata tidak sesuai dengan dugaan. Jalanan itu seperti hari-hari biasanya, hanya jalan panjang yang tetap terbuka. Tidak ada ratusan ribu manusia yang berkerumun. Tidak ada sekumpulan anak-anak muda yang kukenal.


Aku bingung dan mencoba mencerna arti dari itu semua. Dua hari setelah malam tirakatan, Indro bilang bahwa Kusuma dan teman-teman ditangkap dan harus menginap di kantor polisi. Aku tercekat mendengar berita tersebut.


“Just one night. They’ve already been released,” ucap Indro sembari terkekeh.


Aku mencoba mengingat bagaimana Kusuma berdiri malam itu—dengan suara yang naik turun seperti ombak, seolah kata-kata bisa menyelamatkan sesuatu. Seolah kata-kata bisa memunculkan katarsis. Seolah kata-kata menjelma secercah harapan.


Aku sedikit gusar, tetapi bersyukur bahwa Kusuma dan kawan-kawan tidak larut dalam polemik tersebut. Aku rasa, Kusuma dan yang lain melihat gelagat aneh dari rezim baru, karena di setiap pertemuan yang kulalui–obrolannya tetap pada koridor yang sama–negara. Aku melihat bahwa membangun negeri tak hanya urusan insinyur, arsitek, atau teknokrat semata. Aku menyaksikan sekumpulan anak-anak muda, bunga-bunga bangsa, resah dan gerah dengan kondisi negerinya. Semua karena angkatan atas gagap menerima perubahan. Kusuma dan tentunya anak-anak muda lain di sana, pasti ingin hidup lebih sejahtera.


Mungkin itu alasan mereka melakukan itu semua. []


Ilustrasi: Hak milik Joan Cornella, seniman yang berkewarganegaraan Spanyol. Dapat ditemui di akun instagram @sirjoancornella dengan 3,2jt pengikut.