Ilustrasi - Amah
Ilustrasi oleh: Joan Cornella

Amah

2 Agustus 2026
tuturan panjang

Amah Kristin berusia dua belas tahun. Setengah tahun lalu, ia bekerja untuk seorang juragan tembakau bernama Adon.

Malam takbir ini Amah terjaga. Ia menunggu sampai tuan, nyonya, dan para pekerja pabrik yang lebih tua meninggalkan pabrik. Ketika pabrik tampak kosong, ia meraih bolpoin dan selembar kertas bekas potongan pembungkus rokok. Ia siap menulis.

Ia gamang, menimbang kalimat pertamanya karena takut apa yang ditinggalkan akan tetap hidup. Matanya berkali-kali melirik ke arah jendela besar di depannya. Dari balik jendela bekas bangunan Belanda itu, ia melihat bulan dan bintang di ujung menara bergetar, seakan hendak jatuh.

Untuk kakek Yohanes Dewo, tulisnya sambil duduk di kursi berderit. Kakinya bergoyang pelan, melayang di atas ubin yang dingin.

Aku menulis surat ini untukmu. Aku tahu kamu akan bertanya kenapa tidak menelepon saja. Namun, kamu pasti mengerti, ponsel adalah barang impianku sampai nanti lulus SMA. Semoga Tuhan memberkatimu, selayaknya Ia memberikan tempat terbaik untuk ayah dan ibu.

Amah menoleh ke cermin di samping jendela. Sinar lampu jalan merayap masuk, memantulkan bayangan kakek dengan jelas. Kakek adalah satpam di rumah milik konglomerat bernama Tuan Pandowo.

Kakek adalah seorang pria kecil, kurus, dan renta. Umurnya sekitar tujuh puluh tahun. Orang-orang sering memanggilnya Kakek Tuyul karena gerakannya yang cepat saat berpindah dari satu sudut rumah ke sudut lain. Wajahnya seolah selalu tersenyum, punggungnya membungkuk sampai hampir menyentuh lutut.

Siang hari, bila tidak terbaring di gazebo belakang, ia akan duduk dan bercengkerama, menggoda satpam lain, terutama yang masih muda. Malamnya, berbalut jaket bomber putih yang menguning, ia mengelilingi rumah sambil membunyikan kentungan. Kebiasaan yang dibenci seisi rumah, kecuali oleh Tuan Pandowo.

Kakek selalu dibuntuti dua anjing: doberman bernama Hitam yang tampak selalu ingin menggigit dan cihuahua bernama Kecil yang penuh bekas luka.

Kecil sangat cerewet; suaranya cempreng, tak segan mengomel bahkan pada Tuan Pandowo. Namun saat menemani kakek, ia berubah pendiam. Luka-lukanya? Ah, itu cerita tentang betapa garangnya ia dibandingkan Hitam.

Anjing mungil itu suka menyelinap ke kandang ayam tetangga. Ia sering tertangkap basah mencuri ayam. Wajahnya sudah seperti setan yang menyeringai karena berulang kali kena tendangan. Tiap minggu ia dilempar kayu bekas renovasi kandang, kadang sampai tulangnya terlihat. Namun, ia tetap bertahan hidup.

Mungkin kini kakek sedang di posnya, menatap bata merah gereja di seberang rumah. Bila bosan, ia akan menyeret sepatu kets yang bulunya mulai rontok untuk menghampiri satpam lain.

Barangkali kakek menghampiri satpam baru itu. Seorang perempuan yang dulu sering Amah lihat, yang suka menyisir rambut tipisnya.

“Ambil,” ujar kakek sambil menjiwitnya, mengulurkan sekotak rokok kepada perempuan itu.

Perempuan itu mengambil sebatang, mengisapnya, lalu batuk dan bersin hebat. Kakek tertawa lepas, menyorak, “Itu bagus untuk hidung bekicotmu!”

Hitam tak pernah menolak sodoran rokok kakek. Ia akan bersin hebat lalu melenggang kesal. Kecil adalah sahabat kakek. Ia hanya akan mematung, menahan asap rokok sambil mendengarkan gelak tawa kakek.

Amah kembali menatap ke luar setelah takbir bergelagar. Satu... Dua... Lima... Ia menghitung setidaknya terdapat sembilan suara takbir berbeda. Suara yang membuat awan terasa runtuh.

Suara-suara takbir itu tak pernah mengganggunya. Justru pepohonan terasa lebih hidup ketika gema itu merambat. Dari situ ia merasakan musim hujan akan datang tanpa derasnya. Hanya remang air, dengan berkas cahaya kota di sela-selanya. Seakan semesta berbicara, menenangkan luka-luka di sudut tubuh mungilnya.

Amah menghela napas, merapikan kesadarannya yang tercerai-berai. Lalu, ia menulis lagi.

Kemarin aku lari, sembunyi di balik lemari besar dekat dapur. Tuan menyeretku keluar, menyabetku dengan ikat pinggang. Ia marah karena aku tertidur saat meninabobokan bayinya.

Beberapa hari sebelumnya, Nyonya menyuruhku belanja ikan bandeng. Sesampainya di rumah, aku diminta membelek ikan-ikan itu. Saat ikan ketiga, ia mengambil dua ikan yang durinya belum kubersihkan, lalu mengusapkannya ke wajahku.

Pekerja pabrik sering mengajakku ke warung kopi. Suatu hari mereka menyuruhku mengambil lima bungkus mi instan kesukaanku. Setelah kuambil dan masukkan ke dalam baju, pemilik warung berteriak dan mengejarku. Ia memukulku dengan benda pertama yang dilihatnya: asbak batu.

Aku tak bisa banyak makan di sini, hanya kerak yang menempel di penanak nasi. Mereka memang memberiku makan dua hari sekali dengan menu berbeda, tapi anak tertua seorang pekerja pabrik selalu mengambilnya. Katanya, anak yang kurus tak seharusnya makan banyak.

Mereka juga memberiku kamar, tapi anak itu yang memakainya. Katanya, anak kecil tak boleh tidur enak agar menjadi kuat.

Kakek, demi Tuhan yang kamu atau aku sembah, keluarkan aku dari sini. Aku ingin pulang ke Nganjuk. Aku sudah tak tahan. Aku mohon padamu. Aku akan terus berdoa untukmu. Aku janji. Tolong bawa aku pergi dari sini, atau aku akan mati.

Mata Amah berlinang. Ia menyeka air mata sambil memijat pelipis kanannya dengan kencang. Hidungnya kembali mengeluarkan darah.

Aku akan melintingkan rokokmu, lanjut Amah. 

Aku akan menemanimu ke gereja dan kamu boleh mengikutkanku di acara baptis akhir pekan. Jika tak ada yang membuatmu bahagia, aku akan memohon pada orang-orang yang sering menginap di gereja. Aku akan memohon agar mereka paling tidak memperbolehkanku menyeka keramik-keramik di sana. Atau aku akan menjadi seperti mereka, berpakaian putih bersih dan menurut pada gereja.

Aku tak tahan, aku bersumpah. Aku tak tahu sampai kapan ini akan berhenti. Kupikir bisa lari ke Nganjuk, tapi aku bahkan tak bisa membaca arah di jalan. Dan aku terlalu takut bertanya pada orang asing.

Dua bulan lalu aku mencoba kabur. Setelah menyeberang Jembatan Semampir, aku bertanya pada seorang pria tanggung arah ke Nganjuk. Namun, orang itu membawaku ke rumahnya. Ia bermain dengan alat kelaminku, mengoboknya, lalu melakukan itu selama seminggu penuh. Aku bahkan lupa enaknya pipis setelah itu.

Aku janji akan menjagamu ketika besar nanti. Aku akan merawatmu, bahkan bila kamu tak bisa duduk lagi. Ketika kamu dimakamkan, akan kudoakan jiwamu seperti aku mendoakan ibu.

Kediri adalah kota yang besar. Rumah-rumah orang kaya penuh patung hewan dan setan. Aku tak bisa menghitung berapa banyak mobil lewat di jalan. Becak jarang kulihat, dan anjing lebih sering kulihat dari balik pagar daripada di jalanan. Anak-anak seusiaku jarang ribut soal berapa banyak lemper yang mereka dapat setelah terawih. Pun, aku belum pernah melihat mereka pawai obor sambil berselawat.

Sekali waktu aku melihat roti berbalut keju yang kamu suka. Roti itu mengkilap, seakan berlapis emas. Bahkan, ada yang besarnya sepertiga etalase.

Aku juga melihat toko yang menjual bermacam ponsel seperti milik Tuan. Aku yakin harganya ratusan juta.

Saat disuruh belanja ke pasar, aku melihat banyak jenis daging. Kadang aku menebak ada daging rusa, meski tak pernah melihat bentuknya. Hanya saja aku sangat yakin, cukup dengan melihat potongan daging yang besarnya dua kali badanku.

Kakek, saat orang di rumah menyiapkan makanan untuk lebaran besok, ambillah tempe goreng tepung dua potong untukku. Bungkus dengan kertas minyak, tak perlu rapi. Katakan pada Bintun Hasanah, ini untuk Amah.

Amah menghela napas panjang saat hujan mulai rintik di luar jendela. Ia teringat kakek sering mengajaknya ke gereja ketika keluarga konglomerat itu sibuk merayakan lebaran. Oh, betapa menyenangkannya saat itu!

Kakek terkikik ketika berjalan perlahan menuju gereja. Amah ikut terkikik. Sebelum sampai halaman gereja, kakek mengisap rokok, menyesap dalam, lalu tergelak melihat Amah yang kebingungan harus bagaimana ketika hendak masuk. Barangkali karena ia mewarisi apa yang ibunya percayai, dan tak mengenal apa yang kakek anut.

Orang-orang di gereja terpaku melihat Amah di ambang halaman. Mereka menunggu siapa yang berani menegur kakek terlebih dulu.

Seorang pria berpakaian serba putih maju, memberi tahu kakek bahwa besok hari penting bagi Amah. Kakek terkikik lagi, “Tak apa! Percayalah, dia lebih suka di sini daripada bergumul dengan orang-orang yang sedang memakan santan!”

Bintun berlari kecil menghampiri gereja, terengah-engah sebelum menyodorkan permen pada Amah. Kakek semakin terkikik melihatnya.

Bintun adalah orang yang paling disukai Amah. Anak termuda Tuan Pandowo itu suka mengajari calistung. Bila bosan, ia mengajari Amah cara membaca Quran. Ia tak pernah melarang Amah pergi ke gereja; malah sering memberi jajan agar Amah tak bosan.

Ketika ibu Amah meninggal, Bintun ikut sedih sampai sakit parah. Karena itu Tuan Pandowo memisahkan Amah agar Bintun lekas pulih. Sejak itu Amah terus bersama kakek.

Kakek menjadi lebih pendiam setelah ibu Amah meninggal. Ia tak lagi menyentuh rokoknya, dan menjadi sibuk memintal akar rotan setiap hari. Sehari sebelum Tuan Pandowo mengirim Amah ke kota, Amah melihat kakek menggantung di kamarnya.

Jemput aku, kakek, lanjut Amah.

Demi Tuhan, bawa aku pergi dari sini. Kasihanilah anak yatim piatu ini. Mereka memukuliku setiap ada kesempatan. Aku ingin mati rasanya. Aku tak pernah berhenti menangis di sini.

Tuan suka sekali memukul kepalaku dengan gagang sepatu. Aku sempat berpikir, paling tidak alat kelaminku tak akan sakit lagi setelah ini. Aku tersiksa di sini; hidupku lebih buruk dari anjing-anjingmu.

Salamku untuk Bintun dan Tuan Pandowo. Ingat, jangan berikan dua tempe itu selain kepada Bintun.

Tertanda, cucumu,

Amah Kristin.

Datanglah, kakek.

Amah melipat kertas itu dua kali. Ia memasukkannya ke dalam amplop basah pemberian ibu penjual ikan di pasar. Ia sempat ragu sebelum menulis di muka amplop, Untuk kakek.

Amah mengusap pipinya, berpikir lagi, lalu menambahkan dengan huruf besar, UNTUK YOHANES DEWO, DI MANA PUN KAMU BERADA.

Ia senang semua orang belum kembali dari masjid setelah menyelesaikan surat itu. Tanpa jaket, ia segera melangkah keluar.

Para penjual di pasar memberitahu ke mana surat harus dibawa. Amah hanya harus meletakkannya di kantor pos, lalu orang-orang akan mengirimkannya dengan mobil oranye menyala. Mereka bilang semua surat akan sampai ke tujuan.

Amah berlari ke kantor pos terdekat. Jelas kantor pos masih tutup, apalagi di malam takbir. Ia duduk meringkuk di depan pagar, menunggu sambil menikmati hujan yang mulai berangin.

Satu jam menikmati tubuhnya yang terus bergetar dengan hidung yang bercucuran darah, Amah mulai terlelap. Rasa sakitnya perlahan reda; untuk pertama kali dalam hidup ia merasakan kedamaian.

Amah bermimpi melihat kakek di pintu gereja. Kakek menatap jauh ke balik pagar; lebih jauh sampai menembus posisi Amah di ambang halaman.

Kecil berjalan pelan mendekati Amah, mengibaskan ekor sambil sesekali menatap kaki kecil yang berusaha masuk gereja. Hitam melingkarkan tubuhnya di kaki kiri kakek, memandang kecewa karena Amah tak segera masuk.

Amah tak bisa menangis melihat kakek yang ikut kecewa. Ia hanya berbalik, menuju ke arah yang kakek bidik dengan mata renta itu—ke ibunya.


Ilustrasi: Hak milik Joan Cornella. Dapat ditemui di akun instagram @sirjoancornella.