Sakau Sepakbola
Ilustrasi oleh: Arsip Sastra Serkap

Sakau Sepakbola

6 Agustus 2026
tutur pandang

Statistik final Piala Dunia 2026 menunjukkan dominasi Spanyol atas Argentina. La Roja menguasai sekitar 65 persen penguasaan bola, sedangkan Argentina hanya mampu menguasai sekitar sepertiga jalannya pertandingan. Spanyol melepaskan 20 tembakan, 12 di antaranya tepat sasaran, sementara Argentina hanya mampu menghasilkan tiga percobaan sepanjang laga. Pertandingan yang berlangsung hingga babak perpanjangan waktu akhirnya ditentukan oleh satu tendangan keras dari kaki Ferran Torres pada menit ke-106 yang menerima umpan sundulan Nico Williams. Satu gol itu menjadikan Spanyol juara dunia.

Argentina tampil sebagai tim membosankan. Permainan mengalir yang biasanya dibangun melalui kreativitas lini tengah berubah menjadi permainan penuh waspada. Operan-operan pendek kehilangan ritme. Tekanan Spanyol membuat Argentina lebih banyak bertahan daripada menyerang. Argentina seperti sedang memainkan laga sepakbola di tingkat kelurahan.

Sepanjang pertandingan, gawang Argentina menjelma seperti neraka, tak pernah berhenti dihujani api serangan. Emiliano Martinez, penjaga gawang yang sehari-hari membela Aston Villa, dipaksa bekerja tanpa jeda. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, menepis bola, memotong umpan silang, dan berkali-kali menyelamatkan gawang Argentina. Di hadapannya, pasukan Sang Matador menyerang tanpa belas kasihan, dipimpin Lamine Yamal, bintang muda Spanyol yang di luar lapangan juga vokal menyuarakan perjuangan rakyat Palestina.

Sepanjang pertandingan itu, setiap serangan Spanyol mengancam harapan jutaan rakyat Argentina yang menitipkan impian kepada sepasang sarung tangan Martinez. Sepakbola berhenti ketika peluit panjang ditiup Slavko Vincic. Wasit yang memimpin pertandingan asal Slovenia tersebut seperti sedang meniup terompet yang menyadarkan rakyat Argentina bahwa kenyataan sebagai negara korup harus tetap dihadapi setelah laga selesai. Bahkan, para pejabat Argentina berpesta atas nama sepakbola, seperti kasus pencucian uang yang melibatkan Federasi Sepakbola Argentina (AFA) senilai ratusan juta dolar.

Delapan belas juta rakyat Argentina yang masih hidup di bawah garis kemiskinan harus merasakan sakau yang sama ketika Diego Maradona gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia 1990 di Italia. Setelah kekalahan, rakyat Argentina menyadari pertandingan final Piala Dunia bukan sekadar tentang permainan. Mereka sedang menjadikan sepakbola sebagai harapan yang menenangkan dari luka kemiskinan.

Sepakbola mengubah ritme kehidupan rakyat Argentina. Setiap musim Piala Dunia, utang, pengangguran, dan kenaikan harga kebutuhan pokok tidak menjadi beban kehidupan. Bukan karena masalah-masalah itu selesai, melainkan karena masyarakat menemukan sebuah harapan.

Harapan itu bernama tim nasional yang bersemayam pada sosok Lionel Messi. Selama lebih dari dua dekade, Messi bukan sekadar pemain sepakbola; ia adalah simbol harapan. Namun, Messi pada malam final itu gagal memberikan harapan yang selama ini menidurkan rakyat Argentina dari kekacauan ekonomi. Di titik inilah sepakbola bukan sekadar olahraga. Ia adalah institusi budaya yang menyediakan pelarian psikologis ketika institusi-institusi lain tidak lagi mampu melakukannya.

Dalam masyarakat modern, terutama di negara-negara yang mengalami ketimpangan ekonomi, sepakbola menjalankan fungsi serupa. Bukan karena negara kehilangan makna, melainkan karena sepakbola menghadirkan pengalaman yang dapat dirasakan langsung manfaatnya. Negara memberikan janji palsu, tetapi gol dan kemenangan memberikan ledakan emosi yang melahirkan harapan. Negara mengajarkan setia kepada tanah air, tetapi setiap kemenangan Argentina menghadirkan ekstasi dari sebuah harapan untuk menunda bunuh diri di negara yang menjadi jalur transit kokain dan ganja.

Sepakbola adalah harapan yang membuat jutaan orang merasa tenang menghadapi rezim korup. Dalam masyarakat yang mengalami ketimpangan, harapan terhadap sepakbola menjadi penting karena memberikan kompensasi psikologis terhadap ketidakadilan material. Selama dunia masih menghasilkan ketimpangan, sepakbola tetap menjadi harapan melampaui agama dan negara.

Saya tidak perlu menjadi rakyat Argentina untuk memahami mengapa kekalahan sepakbola dapat terasa sakau seperti kehilangan masa depan. Saya pernah hidup di dalam harapan yang sama. Masa kecil saya di Palembang berlangsung ketika Sriwijaya FC berada di puncak kejayaan. Nama-nama seperti Keith Kayamba Gumbs, Zah Rahan Krangar, Claude Ngon A Djam, Obiora, Ferry Rotinsulu, Isnan Ali, hingga Leng Lolo bukan sekadar susunan pemain. Mereka adalah wajah-wajah yang memenuhi ingatan masa kecil saya.

Saat itu, Sriwijaya FC bukan sekadar klub yang menang. Ia adalah lambang supremasi sepakbola nasional. Laskar Wong Kito mencatat sejarah sebagai Double Winners musim 2007–2008 dengan menjuarai Liga Indonesia dan Piala Indonesia pada musim yang sama. Klub ini kemudian mengukuhkan diri sebagai penguasa Piala Indonesia melalui hattrick gelar pada 2007, 2009, dan 2010. Pada musim 2011–2012, Sriwijaya FC kembali menaklukkan kasta tertinggi dengan menjuarai Liga Super Indonesia. Tahun yang sama mereka juga mengangkat trofi Community Shield Indonesia dan Inter Island Cup, bahkan membawa nama Sumatera Selatan tampil di panggung Asia melalui AFC Cup. Bagi saya yang tumbuh pada masa itu, tidak ada alasan untuk percaya bahwa kejayaan sebesar itu akan pernah berakhir.

Setiap kali Sriwijaya FC bertanding, masalah iuran SPP sekolah saya yang menunggak seperti terbayarkan lunas hanya dengan melihat gol tunggal Keith Kayamba Gumbs yang membawa kemenangan Sriwijaya FC atas Persib Bandung pada edisi Liga Indonesia musim 2009/2010. Di masa itu, televisi di rumah saya menjadi pusat perebutan kekuasaan. Kakak perempuan saya penikmat drama Korea, ibu saya penikmat sinetron India, dan saya selalu berhasil mengambil paksa siaran televisi dari mereka demi menonton kocekan Zah Rahan, pemain asal tanah Liberia.

Saya sangat mengagumi Zah Rahan Krangar. Ia datang membawa sesuatu di saat dagangan es milik ibu tidak laku dijual di Pasar 16 Ilir. Bagi saya, Zah Rahan bukan sekadar gelandang. Ia adalah penyair yang menulis puisi dengan bola di atas rumput Gelora Sriwijaya Jakabaring. Saya tumbuh di Pasar 16 Ilir dari tahun 2006 sampai 2012. Di masa itu, saya menyaksikan kaus dan semua pernak-pernik Sriwijaya meramaikan Lorong Basah. Kejayaan Sriwijaya membuat orang-orang pasar seperti saya tetap merawat harapan meskipun Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berkali-kali menggusur dagangan, sampai saya menyaksikan ibu tersungkur di comberan mengejar meja dagangan es yang diangkut ke mobil Satpol PP.

Tetapi anehnya, karena Sriwijaya, saya tidak mengalami putus asa sebagai remaja SMP. Di masa itu, saya tidak berdoa supaya dagangan es ibu laku atau mengadukan petugas Satpol PP yang membuat ibu trauma berdagang. Saya cuma berdoa, semoga Sriwijaya FC selalu menang. Saya bersorak ketika umpan-umpan mematikan Zah Rahan membuat lawan mati kutu, menaruh harapan pada ketajaman Claude Ngon A Djam dan Obiora, merasa aman karena Ferry Rotinsulu berdiri di bawah mistar, sementara Isnan Ali berlari tanpa lelah di sisi lapangan. Di lapangan, mereka memberi saya lebih dari sekadar kemenangan. Mereka memberi saya harapan sebagai orang pasar.

Saat itu, saya mengira kejayaan akan berlangsung selamanya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa klub yang pernah menjuarai Liga Indonesia dan menjadi salah satu kekuatan terbesar sepakbola nasional suatu hari akan terperosok ke jurang. Setelah terdegradasi dari Liga 1 pada akhir musim 2018, Sriwijaya FC menghabiskan bertahun-tahun di Liga 2. Harapan untuk kembali ke kasta tertinggi terus dipelihara, tetapi kenyataan justru semakin pahit. Kekalahan dari Sumsel United pada 28 Februari 2026 memastikan Laskar Wong Kito terdegradasi lagi ke Liga 3.

Bersamanya, ikut terdegradasi kenangan saya tentang masa kecil di Pasar 16 Ilir, harapan yang pernah saya gantungkan setiap tagihan buku dan SPP membuat saya malas ke sekolah. Nama Kayamba, Zah Rahan, Claude Ngon A Djam, Obiora, atau Ferry Rotinsulu adalah guru harapan saya untuk tidak memikirkan bunuh diri menyaksikan dagangan es ibu dicairkan matahari.

Atas dasar pengalaman itulah saya tidak heran apabila kekalahan dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 membuat rakyat Argentina, yang menjadikan sepakbola sebagai harapan untuk bertahan hidup, mengalami sakau—mengalami gelisah brutal entah sampai kapan menunggu trofi Piala Dunia kembali pulang ke tanah La Albiceleste.

Saya memahami rasa sakau itu karena saya pun mengalaminya setiap kali melintasi Jalan Pasar 16 Ilir yang sekarang menjelma kuburan. Saya juga merasa kejayaan Sriwijaya FC ikut dimakamkan di sana. Dada saya selalu dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan ketika melewati jalanan di pasar yang dulu menjadi simbol perdagangan terbesar di Sumatera Selatan. Di jalan itulah saya pernah melihat kota ini begitu hidup. Jersey kuning menjadi pakaian kebanggaan melampaui baju koko yang dihadiahkan ibu ketika saya menjuarai lomba azan di sekolah.

Tetapi saya meyakini sakau rakyat Argentina pasti mengalami akhir sekalipun Messi mati. Lalu bagaimana dengan sakau saya? Sriwijaya FC terancam hilang selamanya, menunggu hari-hari klub yang menginap di Mess Pertiwi daerah Sekip dijual kepada mafia sepakbola.