Wacana kolonial (colonial discourse)adalah sebuah istilah diperkenalkan oleh Said lewat bukunya yang fenomenal, Orientalisme (1978). Istilah ini dikembangkannya dari pemikiran Michel Foucault tentang discourse dalam The Archeology of Knowledgedan Disciplin and Punish. Seperti yang dikatakan Said,
[…] gagasan tentang wacana yang dicetuskan Foucault ini sangat relevan untuk diterapkan guna mengindetifikasi kajian Orientalisme. Tanpa mengkaji Orientalisme sebagai sebuah diskursus, maka kita tidak mungkin bisa memahami disiplin keilmuan yang sangat sistematis ini yang dengannya kebudayaan Eropa mampu menangani—bahkan—menciptakan—dunia Timur secara politis, sosiologis, militer, ideologis, ilmiah, dan imajinatif selama masa pasca-Pencerahan18.
Sebagai wacana tidak bebas nilai, orientalisme menempatkan sosiokultural masyarakat jajahan sebagai dunia yang asing, sebuah dunia baru yang benar-benar berbeda jauh dengan dunia si penjajah. Dalam kajian-kajian para orientalis, perbedaan Barat dan Timur ini ditegaskan sedemikian rupa secara ontologis dan epistemologis, dengan menempatkan Barat pada posisi superior atas Timur yang direpresentasikan sebagai subjek inferior yang terbelakang dan barbar, tidak rasional, penuh takhayul, dan tidak dapat merepresentasikan dirinya sendiri.
Timur (atau secara lebih luas dunia non-Eropa) tidak hadir secara langsung dalam teks-teks para orientalis. Timur adalah dunia yang dihadirkan oleh Barat—setelah mengalami distorsi dengan berbagai kepentingan. Karena itu, para orientalis Barat yang menghadirkan kembali Timur kepada para pembacanya senantiasa berada di luar dunia Timur, baik secara eksistensial maupun moral.
Singkatnya, orientalisme dapat diartikan sebagai cara Barat mendefinisikan dan memahami dunia Timur menurut cara pandang dan pengalaman orang-orang Eropa. Ia dijadikan sebagai sistem pengetahuan yang bukan saja berfungsi sebagai kerangka konseptual untuk menyaring dunia Timur ke dalam kesadaran Barat, tetapi juga untuk mendominasi, menata ulang, dan menetapkan kekuasaan Barat terhadap dunia Timur. Orientalisme—mengutip kata-kata Said—lebih kepada “[…] tanda kekuasaan Atlantik-Eropa terhadap Dunia Timur daripada sebagai wacana yang murni dan jujur mengenai Timur19.”
Salah satu peristiwa tekstual monumental yang menunjukkan hal ini, yakni orientalisme dalam praktiknya yang paling khas, antara lain bisa kita temukan dalam novel Robinson Crusoe karya Daniel Defoe, terutama peristiwa pertemuan Crusoe dengan seorang penduduk pribumi di pulau terpencil di luar Eropa tempatnya terdampar.
[…] dia berlari ke arahku, bersujud dengan sikap rendah hati dan berterima kasih, melakukan banyak gerakan kuno untuk menunjukkan hal itu. Dari caranya bersujud di hadapan kakiku, dia memberikan isyarat bahwa dia akan patuh dan mengabdi kepadaku selama hidupnya. Aku mengerti apa yang dimaksudkannya dalam banyak hal, dan menunjukkan kepadanya bahwa aku sangat senang kepadanya. Tidak lama kemudian aku mulai berbicara dengannya. Pertama, aku memberitahunya bahwa aku akan memanggilnya dengan nama Friday, karena itulah hari ketika aku membebaskannya. Aku memanggilnya demikian untuk mengingat waktu. Aku pun mengajarinya untuk memanggilku Tuan. [….] Aku memberikannya susu di sebuah periuk tanah, dan memberikannya contoh bagaimana cara meminumnya maupun mencelup rotiku ke dalamnya20.
Selain dapat dikatakan sebagai awal pertemuan sang penjajah (colonizer) dengan si terjajah (the colonized), menurut Said, peristiwa ini juga menjadi repetisi genesis, asal mula pertemuan Tuhan dengan manusia pertama; dan karena itu Crusoe mendapatkan kekuasaan atas Friday dan otoritas untuk menyertakan peristiwa itu dalam keseluruhan kisah yang menjadi “miliknya”, termasuk kisah tentang hubungannya dengan Friday yang sejak itu juga menjadi miliknya21.
Dengan begitu, muncullah asumsi bahwa sebelum adanya kesaksian dari sosok Eropa yang diwakili oleh Tuan Crusoe, keberadaan Friday prapertemuan awal itu diabaikan. Bahkan lebih jauh lagi, karena ia dibahasakan dalam sistem wacana yang diberi otoritas (baca: Barat) maka apapun yang terjadi sebelum peristiwa itu dianggap tidak ada. Dalam pengertian ini, teks bukanlah berfungsi sekadar mencatat dan melaporkan kenyataan, melainkan benar-benar menciptakan kenyataan22. Di sinilah,—seperti yang dikatakan Said—sebagai bentuk budaya, novel (dan karya sastra lain) sesungguhnya memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan sikap, acuan dan pengalaman imperial23.
Sikap dan pandangan yang ditunjukkan oleh Droogstoppel dalam kesimpulan-kesimpulannya maupun oleh Pendeta Wawelaar lewat khotbah dalam Max Havelaar terhadap orang Jawa tentunya mengingatkan kita kepada usaha-usaha Crusoe dalam mengajari Friday cara makan yang benar (sesuai dengan cara Eropa yang beradab), cara berbicara (menggunakan bahasa Inggris/bahasa Eropa), dan memperkenalkannya kepada Tuhan yang benar (Tuhan agama Kristen), sembari pada saat yang bersamaan mengklaim pulau “kosong” (tapi berpenghuni) tempatnya terdampar itu sebagai penemuannya dan miliknya.
Dalam kasus ini, keunggulan Crusoe (penjajah Barat) atas Friday (pribumi) yang ditunjukkan oleh Defoe dalam novelnya, seperti hendak menyatakan kepada kita bahwa struktur kekuasaan kolonial bukan saja dilegitimasi sebagai sesuatu yang baik bagi tanah jajahan, tetapi juga disusun kembali menjadi hubungan guru dan murid (atau, kakak dan adik dalam kasus novel Max Havelaar). Penduduk pribumi membutuhkan pimpinan dan bimbingan dari bangsa Eropa yang superior agar dapat hidup lebih baik, sehingga dengan begitu kolonialisme pun dimaknai sebagai “pembebasan” bagi kaum terjajah. Persis yang diungkapkan Pendeta Wawelaar lewat narasi Droogstoppel:
Demikianlah para Kekasihku, panggilan tugas kaum Israil yang mulia, (maksudnya membinasakan penduduk Kanaan), dan demikian pula panggilan tugas negeri Belanda! Tidak, orang tidak akan mengatakan bahwa terang yang menyinari kita, kita tutup dengan takaran gandum, bahwa kita pelit dalam membagikan rezeki kehidupan yang kekal. Pandanglah pulau-pulau di Samudera Hindia, yang didiami oleh berjuta-juta cucu dari putera nabi Nuh yang dibuang, dan memang sepantasnya dia dibuang—sedangkan nabi Nuh yang mulia itu berkenan kepada Tuhan. (Max Havelaar, 140)
Fokalisasi Droogstoppel dalam Max Havelaar jelas menempatkan dirinya sebagai tokoh antagonis yang tampak materialistik, tamak, picik, egois, munafik, dan berpikiran sempit, tetapi sok tahu terutama tentang Hindia Belanda yang belum pernah dikunjunginya. Ia—melalui narasinya sendiri—digambarkan sebagai sosok yang tidak mengerti (juga tidak peduli) tentang kolonialisme dan bagaimana kopi yang dijualnya itu diproduksi.
Maka tidaklah aneh jika pertemuannya dengan bekas residen di Hindia yang hidup mewah sekembali ke Belanda itu kemudian semakin menguatkan pandangannya terhadap tanah koloni sekaligus meneguhkan penilaian pribadinya bahwa orang baik bakal selalu dilimpahi kekayaan, sementara yang berkelakuan buruk seperti Sjaalman hanya akan berakhir seperti gembel.
Residen dan isterinya itu orang-orang yang ramah dan baik. Mereka banyak menceritakan kepada kami tentang cara hidupnya di negeri Hindia; mestinya enak sekali di negeri itu. Kata mereka tempat peristirahatan mereka di Driebergen itu tidak ada separoh dari apa yang mereka sebut “erf”, pekarangan di pedalaman pulau Jawa, dan yang memerlukan kira-kira seratus orang untuk memeliharanya. Tapi, dan ini suatu bukti betapa mereka itu disenangi, orang-orang itu tidak minta bayaran suatu apa, mereka bekerja hanya karena kasih sayang. Juga mereka menceritakan bahwa waktu mereka berangkat mereka menjual perabotannya dan penghasilannya ada sepuluh kali harganya, sebab kepala-kepala bumiputra itu semuanya ingin membeli tanda mata dari seorang residen (Max Havelaar, 316)
Tidak terpikirkan sedikit pun oleh Droogstoppel bahwa kekayaan yang diperoleh bekas residen itu selain berasal dari eksploitasi atas tanah jajahan dan para penduduknya, bisa jadi juga hasil penyalahgunaan kekuasaan jabatan di Hindia Belanda.
Dengan dasar logika seperti ini, wajar saja apabila semua data mengenai penindasan rakyat Jawa, baik yang berasal dari naskah Sjaalman maupun dari pendapat Stern dan Frits, bagi Droogstoppel hanyalah bohong belaka dan omongan gila, yang tidak bisa ia terima dan pahami.
Apakah arti seekor kerbau dibandingkan dengan keselamatan jiwa Frits? Apa perduli saya dengan urusan orang-orang yang jauh itu, jika saya diganggu ketakutan bahwa Frits karena tidak percayanya merusak perdagangan saya sendiri, dan bahwa ia tidak pernah bisa menjadi makelar yang jempol? Sebab Wawelaar sendiri mengatakan bahwa Tuhan mengatur segalanya begitu rupa sehingga barangsiapa yang saleh dia akan menjadi kaya. “Lihat saja, katanya, bukankah banyak kekayaan di negeri Belanda? Itu disebabkan karena kepercayaan agama. Bukankah di Perancis orang selalu berbunuh-bunuhan? Itu disebabkan karena mereka di sana beragama Katholik. Bukankah orang Jawa miskin? Mereka itu kafir. Lebih lama orang Belanda bergaul dengan orang Jawa, tambah kaya kita di sini dan tambah miskin di sana. (Max Havelaar, 269)
Apakah dengan begitu, Dekker memang bisa dikatakan mencoba menggugat kolonialisme yang diwakili oleh sosok Droogstoppel (dan tokoh-tokoh lainnya yang ia kecam lewat tokoh Havelaar maupun sebagai Multatuli sang pengarang)? Sekilas memang seolah terlihat seperti itu, namun sesungguhnya tidak sama sekali.
Penciptaan karakter Droogstoppel yang khas ini tentu amat berguna bagi Dekker dalam menyampaikan gugatan yang ia inginkan. Sosok makelar kopi itu ia maksudkan sebagai gambaran masyarakat menengah Belanda yang—meminjam Subagio Sastrowardoyo—“mengandung wawasan dunia yang ciut serta kecenderungan mencari keuntungan diri sendiri”24. Lapisan menengah yang acuh dan naif, yang diwakili Droogstoppel ini—setidaknya dari fokalisasi Multatuli—menjadi salah satu (tetapi bukan yang utama) biang kemelaratan dan kemiskinan di Hindia Belanda, tempat “lebih dari tigapuluh juta rakyat dianiaya dan ditindas” oleh para penguasa bumiputra atas nama raja Belanda. Bahkan dari namanya saja yang berarti si Kersang Hati, kita sudah bisa mendapatkan gambaran mengenai sifat buruk karakter Droogstoppel yang sengaja ditonjolkan begitu rupa oleh Dekker alias Multatuli ini.
“Stop, hasil celaka nafsu mata duitan yang kotor dan kemunafikan yang menghujah Tuhan! Akulah yang menciptakan anda, ….. anda membesar menjadi makhluk yang dashyat di bawah penaku, ….. aku jijik dengan bikinanku sendiri, ….. terbenamlah dalam kopi dan pergilah25!” demikian tulis Multatuli yang menyeruak masuk pada penghujung cerita sebagai narator-pengarang.
Perwatakan Droogstoppel ini jadi semakin penting apabila kita sandingkan dengan sikap dan watak Max Havelaar sang Asisten Residen Lebak yang menjadi tokoh utama novel, di mana sifat keduanya dengan sengaja digambarkan saling bertolak belakang. Jika Droogstoppel dibuat tampak picik dan berpandangan sempit di mata pembaca, sosok Max Havelaar yang dihadirkan lewat penuturan Stern adalah karakter ksatria berhati bersih yang jujur dan sederhana, berpandangan dan berwawasan luas, cinta keadilan dan tanpa pamrih, mudah tersentuh, murah hati, serta penuh belas kasih bahkan nyaris suci.
Alhasil keburukan watak Droogstoppel ini—termasuk pelecehannya terhadap tokoh Sjaalman yang tidak lain adalah gambaran diri Dekker sendiri yang telah jatuh miskin—pun membuat segala kemuliaan yang dilekatkan oleh pengarang kepada tokoh Havelaar lewat narator Stern “seakan” terlihat kian cemerlang. Ya, pada novel ini sang pengarang memang hadir wujud tiga karakter, yaitu Multatuli sang narator-pengarang, Sjaalman si penulis miskin, dan Max Havelaar si Asisten Residen Lebak yang adalah tokoh utama novel.
Meskipun Droogstoppel dan Havelaar boleh dibilang sama-sama memperoleh posisi kuat dalam novel, baik dari peranan yang dimainkan maupun dari perwatakan keduanya yang berkebalikan; kehadiran Droogstoppel yang diberikan ruang untuk bersuara sebagai narator sebetulnya hanyalah “boneka” (atau “alat” dalam ungkapan Multatuli) demi memuja perjuangan Max Havelaar serta pergorbanannya, ketidakadilan yang menimpanya, dan gugatan-gugatannya—yang tidak lain adalah pamflet politik sang pengarang belaka. Atau, dengan kata lain: Batavus Droogstoppel hanyalah karakter busuk yang sengaja diciptakan sebagai lawan/kebalikan dari sifat mulia seorang Max Havelaar alias Multatuli alias Eduard Douwes Dekker sendiri.
BERBEDA dari Droogstoppel yang dihadirkan untuk menceritakan dirinya sendiri, Max Havelaar dan semua cerita mengenai tokoh Asisten Residen Lebak ini semuanya diceritakan oleh Ernst Stern, narator-karakter yang—dalam cerita—diberi tugas oleh Droogstoppel untuk menulis ulang naskah dari Sjaalman menjadi sebuah novel. Dan demi tugasnya sebagai narator inilah, karakter Ernst Stern alias Stern Junior pun dideskripsikan—lewat penuturan Droogstoppel maupun suaranya sendiri—sebagai seorang pemuda Jerman yang idealis, romantis, dan menaruh simpati pada Max Havelaar.
Ia dikisahkan sebagai putra dari Ludwig Stern, seorang pemilik firma kopi di Hamburg, Jerman, yang menjadi pelanggan setia Droogstoppel dan sedang magang kerja di Last & Co. Adapun alasan Droogstoppel menyuruh Stern membantunya menulis, selain karena ia sendiri belum pernah menulis sesuatu yang serupa dengan roman, adalah lantaran pemuda itu dianggapnya pintar dan sedikit berbakat sastra.
Karena itu, kendati sesekali disela dan dicela oleh Droogstoppel yang tidak menyukai pandangan-pandangannya tentang Havelaar dan penderitaan rakyat Jawa, posisi Stern sebagai narator yang seyogianya berada di bawah Droogstoppel justru jauh lebih penting dan mendominasi seluruh teks novel.
[…] Tapi, pikir saya bagaimana kalau saya suruh Stern menulis buku saya, ….. kalau ada yang hendak saya tambahkan, sekali-sekali akan saya tulis sendiri sebuah bab. […]
Saya kemudian membicarakan rencana saya itu dengan Frits dan Stern, dan mereka setuju saja. Hanya nampaknya Stern, yang mempunyai sedikit bakat sastra, seperti semua orang Jerman, ingin mempunyai suara dalam cara pelaksanaan. Ini kurang menyenangkan bagi saya, tapi karena lelang musim semi sedang mendatang, dan saya belum mendapat pesanan dari Ludwig Stern, saya tidak mau terlalu membantahnya. Dia mengatakan, bahwa “bila jantungnya membara karena keindahan dan kebenaran, tiada kekuasaan di dunia yang dapat mencegahnya menyanyikan lagu yang seirama dengan perasaan itu; dan bahwa ia lebih baik diam dari membiarkan kata-katanya terbelenggu oleh rantai keji keseharian”.[…] (Max Havelaar, 43)
Di sinilah tampak oleh kita bagaimana karakter pemuda Stern (yang dalam bahasa Jerman berarti “Bintang”) dengan wataknya yang digambarkan idealis dan romantis itu juga cuma diciptakan untuk menguatkan karakter serba-positif Havelaar. Tugas pokoknya sebagai narator adalah menyampaikan cerita tentang Max Havelaar sebagai sosok karismatik yang berani mempertaruhkan karier dan segalanya demi memperjuangkan keadilan bagi rakyat jajahan.
Hanya lewat narasi Stern kita berjumpa dengan Havelaar, seperti halnya kita berjumpa dengan Sjaalman hanya melalui narasi Droogstoppel. Kendati keduanya jelas sama-sama merupakan alter-ego Dekker, penilaian maupun penggambaran atas mereka bagaikan langit dan bumi. Jika di mata Droogstoppel, Sjaalman adalah karakter menyedihkan yang tidak punya hal membanggakan sedikit pun; sebaliknya di mata Stern, Max Havelaar memperoleh pandangan yang sangat terhormat.
Lewat kebebasan bersuara yang dimiliki narator Stern ini—yang tidak berani terlalu dibantah oleh Droogstoppel dalam narasi lantaran alasan bisnis—Multatuli alias Dekker kemudian mencitrakan dirinya sendiri habis-habisan secara subjektif sebagai seorang pahlawan Belanda pembela kebenaran dan keadilan di tanah Hindia. Sebuah pencitraan yang membuat ketokohan Havelaar bahkan tampak nyaris bersifat mesianik26.
Simak saja bagaimana lewat narasi Stern pada Bab VIII, ia mengisahkan betapa berwibawa dan fasihnya Havelaar berpidato dalam bahasa Melayu di hadapan Bupati Lebak dan para kepala daerah Banten Kidul di pekarangan rumahnya di Rangkas Bitung pada awal kedatangannya untuk menjalankan tugas sebagai Asisten Residen Lebak. Di sini, bukan hanya diperlihatkan kepada kita betapa superiornya isi pidato tersebut, tetapi juga digambarkan dengan tanpa malu-malu figur dan pembawaan Havelaar yang diibaratkan dengan seorang nabi sedang bersabda.
Masing-masing mengira akan mendengarkan suatu pidato seperti yang diucapkan oleh residen sehari sebelumnya, dan mungkin juga Havelaar sendiri tidak bermaksud mengatakan sesuatu yang lain kepada kepala-kepala, tapi kita harus pernah mendengar dan melihatnya pada waktu-waktu demikian, untuk mengerti bagaiamana ia, pada pidato-pidato seperti ini, jadi bersemangat, dan oleh caranya bicara yang khas, memberikan warna baru kepada hal-hal yang paling biasa; bagaimana ia tegak, bagaimana matanya memancarkan api, bagaimana suaranya beralih dari lemah merayu menjadi tajam mengiris, bagaimana kiasan-kiasan mengalir dari bibirnya seolah-olah ia menaburkan barang-barang yang berharga ke sekitarnya, barang-barang yang tidak usah dibelinya, dan bagaimana, bila dia berhenti bicara, semuanya memandangnya dengan mulut terbuka, seolah-olah bertanya: “masya Allah, siapakah Anda?”
Memang benar, bahwa ia sendiri, yang pada waktu demikian berbicara seperti rasul, seperti nabi, kemudian tidak tahu lagi bagaimana ia bicara, dan kefasihannya lebih bersifat menimbulkan kekaguman dan menubruk sasaran, dari menyakinkan dengan jalan menguraikan secara ringkas. Sekiranya ia hidup di masa Yunani ketika diambil putusan untuk berperang melawan Philippus, ia dapat memberikan semangat berapi-api kepada orang Athena, tapi ia tidak akan begitu berhasil, sekiranya ia mendapat tugas untuk mempengaruhi mereka supaya berperang, dengan memberikan uraian. Pidatonya kepada kepala-kepala Lebak terus saja dalam bahasa Melayu, dan karena itu mempunyai satu keistimewaan lagi; bahasa-bahasa Timur amat sederhana, sebab itu banyak ungkapan-ungkapannya yang penuh tenaga; bahasa-bahasa Barat sudah kehilangan tenaga itu karena sifatnya yang dibuat-buat; sebaliknya nada yang mengalir manis dalam bahasa Melayu sukar dinyatakan dalam bahasa lain;—lagipula harus diingat, bahwa sebagian besar pendengarnya terdiri dari orang-orang sederhana, tapi sama sekali tidak bodoh, dan lagi mereka itu orang Timur, yang penerimaannya berbeda sekali dari penerimaan kita. (Max Havelaar, 110-111)
Mungkin ada orang berkata bahwa cara Havelaar bicara diragukan keasliannya, sebab bahasanya mengingatkan gaya para nabi dalam Wasiat Lama [Perjanjian Lama, pen.]; saya ingatkan bahwa pernah saya berkata, dalam saat-saat ia berada dalam ekstase, ia sungguh-sungguh seperti seorang resi, dan bahwa mungkin tidak akan lain caranya berbicara, sekalipun ia tidak pernah membaca syair-syair yang indah dalam Wasiat Lama, mengingat bahwa kehidupan di hutan-hutan dan di gunung-gunung banyak meninggalkan kesan dalam jiwanya dan karena suasana dunia timur yang bernafaskan puisi. (Max Havelaar, 117)
Dari deskripsi dalam kutipan-kutipan ini, kita sudah bisa melihat bagaimana kuatnya wacana kolonial yang menempatkan posisi penjajah di atas kaum terjajah dengan segala klaim keunggulan budayanya serta keyakinannya terhadap misi pemberadaban itu dijabarkan secara terang-benderang oleh Havelaar. Sehingga dalam konteks ini, wajar jika Havelaar bukan saja yakin dirinya telah diutus untuk menjadi penguasa yang adil dan rendah hati, tetapi juga untuk menjadi seorang “saudara yang lebih tua”. Dengan begitu, para pembesar dan penduduk bumiputra perlu mendapatkan bimbingan darinya agar dapat hidup lebih baik. Dengan bangga Max Havelaar berkata dalam pidatonya:
Tapi saya lihat bahwa rakyat tuan-tuan miskin, dan inilah yang menggembirakan hati nurani saya.
Sebab saya tahu bahwa Allah cinta orang yang miskin, dan bahwa Ia melimpahkan kekayaan kepada orang yang hendak diujiNya,tetapi kepada orang miskin diutusNya orang yang menyampaikan firmanNya, supaya mereka bangkit dan kemelaratannya.
Bukankah Dia mencurahkan hujan di mana batang layu mengering dan meneteskan embun dalam kelopak bunga kehausan?
Bukankah tugas yang mulia dikirim untuk mencari orang-orang yang lelah yang ketinggalan sesudah selesai bekerja dan tersungkur di tepi jalan karena lututnya tak kuat lagi untuk berjalan ke tempat menerima upah? Tidakkah saya akan gembira mengulurkan tangan kepada orang yang jatuh ke dalam lubang, dan memberi tongkat kepada orang yang mendaki gunung? Tidakkah hati saya akan menggejolak karena terpilih antara yang banyak untuk merobah keluhan menjadi doa dan ratapan menjadi tasyakkur?
Ya, saya amat gembira terpanggil ke Banten Kidul. (Max Havelaar, 112-113)
Dalam pidato tersebut, Havelaar sama sekali tidak mengaitkan kemiskinan rakyat Banten Kidul dengan kolonialisme Belanda, tetapi sejak awal telah melihat kemiskinan itu sebagai akibat dari penyelewengan kekuasaan oleh para kepala bumiputra, yang telah melalaikan kewajiban, yang dikiaskannya dengan kata-kata “bagaimana pohon yang besar mendesak yang kecil dan membunuhnya27”. Karena itu, sebagai pejabat kolonial ia pun merasa bahagia telah ditempatkan di Lebak untuk membantu rakyat miskin dan menegakkan keadilan yang amat ia dambakan sebagai seorang pejabat pemerintah yang baik budi.
Sebab, kepala-kepala negeri Lebak, banyak yang harus dikerjakan di wilayah tuan.
Katakan kepada saya, bukankah si petani miskin? Bukankah padi menguning seringkali untuk memberi makan orang yang tidak menanamnya? Bukankah banyak kekeliruan di negeri tuan? Bukankah jumlah anak tuan sedikit?
Tidakkah ada rasa malu dalam jiwa tuan, apabila orang Bandung yang terletak di Timur sana, mengunjungi daerah tuan dan bertanya: “di manakah desa-desa, dan di mana petani-petani, dan mengapa tidak kudengar gamelan yang menyatakan kegirangannya dengan mulut tembaga, ataupun bunyi anak-anak gadis tuan menumbuk padi?
Tidakkah getir untuk berjalan dari sini ke pantai Selatan dan melihat gunung-gunung yang tidak mengandung air pada lereng-lerengnya, atau tanah-tanah datar di mana tidak pernah kerbau menarik bajak?
Ya, ya, ya, saya katakan itu kepada tuan, bahwa jiwa tuan dan jiwa saya sedih memikirkannya; dan justru itulah sebabnya kita bersyukur kepada Allah, bahwa Ia memberi kita kekuasaan untuk bekerja di sini.
[…]
Saya dikirim kemari untuk menjadi sahabat tuan-tuan, menjadi saudara yang lebih tua. Apakah tuan tidak memberitahu adik tuan, jika tuan melihat ada harimau di jalan yang akan dilaluinya?
Kepala-kepala negeri Lebak, kita sering melakukan kesalahan-kesalahan dan negeri kita miskin, karena kita melakukan banyak kesalahan-kesalahan.
Sebab di Cikandi dan Bolang dan di daerah Krawang dan di tanah-tanah sekitar Betawi, banyak tinggal orang-orang yang lahir di negeri kita, dan yang meninggalkan negeri kita.
Mengapa mereka mencari kerja jauh dari tempat mereka menguburkan orang tuanya? Mengapa mereka lari dari desa, di mana mereka disunat? Mengapa mereka lebih suka mencari keteduhan pohon yang tumbuh di sana, dari naungan hutan-hutan kita?
Malahan nun di barat laut di seberang laut, banyak orang yang sebenarnya anak kita, tapi meninggalkan Lebak untuk mengembara di daerah-daerah asing, membawa keris dan kelewang dan senapan. Dan mereka mati dengan menyedihkan, sebab di sana ada kekuasaan pemerintah, yang mengalahkan pemberontak.
Saya bertanya kepada tuan, kepala-kepala negeri Lebak, mengapa banyak yang pergi untuk tidak dikuburkan di tempat kelahirannya? Mengapa pohon bertanya: “di mana orang yang kulihat bermain sebagai anak kecil di kakiku dahulu?” (Max Havelaar, 113-115)
Kemiskinan akibat “kelalaian” para pembesar bumiputra dalam menjalankan kekuasaan inilah yang dilihat Havelaar sebagai penyebab banyak rakyat pergi dari wilayah Banten Kidul untuk mencari penghidupan di daerah lain, bahkan di antaranya menjadi “pemberontak” terhadap Belanda. Atas semua penderitaan rakyat Lebak yang disebutkannya itu, ia bukan saja tidak sedikit pun mempertanyakan keabsahan kekuasaan kolonial yang mana ia juga menjadi bagian di dalamnya, bahkan tidak pernah mempertanyakan apa hak mereka membawa bedil dan meriam untuk menjadi penguasa di pulau-pulau di Samudra Hindia yang bermil-mil jauhnya dari tanah kelahiran mereka yang kecil dan dingin.
Sebaliknya, justru dengan tegas ia menyatakan betapa adilnya para penguasa kolonial Belanda, dari sang raja yang kepadanya rakyat Hindia mengabdi sampai residen di Serang. Hanya saja—menurut ia—tuan-tuan penguasa kolonial yang adil itu tidak bisa sepenuhnya mengawasi penyelewengan-penyelewengan di lapisan bawah (para pembesar bumiputra) lantaran luasnya daerah kekuasaan. Akibatnya, kewajiban menegakkan keadilan itu pun jatuh ke tangan para asisten residen seperti dirinya, ketika atas nama Tuhan ia bersumpah akan “menjalankan keadilan tanpa ketakutan dan tanpa kebencian”.
Catatan Kaki
18Orientalisme, 4.
19Orientalisme, 8.
20Daniel Defoe, Robinson Crusoe, terjemahan Peusy Sharmaya (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2010), 335.
21Edward W. Said, Beginnings: Intention and Method (New York: Basic Book, 1975), 16, sebagaimana dikutip oleh Ari J. Adipurwawidjana dalam “Pola Narasi Kolonial dan Pascakolonial” (Jurnal Kalam, 14, 1999), 81. Selanjutnya ditulis “Pola Narasi Kolonial dan Pascakolonial”.
22"Pola Narasi Kolonial dan Pascakolonial”, 83.
23Edward W. Said, Kebudayaan dan Kekuasaan: Membongkar Mitos Hegemoni Barat, terjemahan Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1995), 12.
24Subagio Sastrowardoyo, Sastra Hindia Belanda dan Kita (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), 51. Selanjutnya ditulis Sastra Hindia Belanda dan Kita.
25Max Havelaar, 346.
26Seperti yang juga dilihat oleh Subagio Sastrowardoyo bahwa“Kesubyektifan Multatuli terutama sangat menonjol dalam penghargaannya yang terlalu tinggi kepada dirinya sendiri. Hal ini ternyata pada pembayangan dirinya pada tokoh Havelaar, yang ditampakkan terlalu positif, berperangai putih-bersih, tanpa salah atau kelemahan, berlapang dada, serta luas wawasan dunianya, cemerlang gagasannya, terpelajar, dan berperikemanusiaan yang tinggi. Inilah secara selintas ciri-ciri pribadi Max Havelaar yang hendak dikemukakan Multatuli. Pementingan diri Multatuli itu pun tercermin pada penempatan tokoh Havelaar sebagai pusat satu-satunya di tengah segala kejadian. Di seputar dialah tokoh-tokoh lain tampil sebentar dan kemudian pada waktunya menghilang lagi.” Sastra Hindia Belanda dan Kita, 50.
27Max Havelaar, 112.
Kepustakaan
Adipurwawidjana, Ari J. “Pola Narasi Kolonial dan Pascakolonial”. Jurnal Kalam, 14, 1999.
Alatas, Syed Hussein. 1989.Mitos Pribumi Malas. TerjemahanAhmad Rofie dan Zainab Kassim.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Alcoff, Linda Martín.“The Problem of Speaking for Others”. Cultural Critique, Winter 1991-1992, pp. 5-32, dalam http://alcoff.com/content/speaothers.html, diakses 20/06/2022.
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffin. 2001. Post-Colonial Studies: The Key Concepts. London: Routledge.
Chabibah, Uswatul. “Sisi Lain Eduard Douwes Dekker: Pejabat yang Tak Pernah “Blusukan”” dalam https://tirto.id/sisi-lain-eduard-douwes-dekker-pejabat-yang-tak-pernah-blusukan-gan6, diakses 15/09/2021.
Defoe, Daniel. 2007. Robinson Crusoe. New York: Oxford University Press Inc.
Defoe, Daniel. 2010. Robinson Crusoe. Terjemahan Peusy Sharmaya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
De Gier, dr. J. “Rilling door het land”, dalam https://www.digibron.nl/viewer/collectie/Digibron/id/tag: RD.nl,20100514:newsml_2c6b375cc8894fb9fb99e9dedf2c13a4, diakses 12/02/2022.
Dewi, Christiana. Max Havelaar dan Citra Antikolonial: Sebuah Tinjauan Poskolonial. Atavisme. Vol.11, No.1 2008, hlm. 23-37.
Erlang, Niduparas (ed.). 2018. Simposium: Pascakolonial dan Isu-isu Mutakhir Lintas Disiplin. Lebak:Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak.
Erlang, Niduparas (ed.). 2019. Membaca Ulang Max Havelaar. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.
Faruk, Dr. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial: Hegemoni & Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Klinkowitz, Jerome. “Metafiction” (26 July 2017) dalam https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190201098.013.546, diakses 15/02/2022.
Morton, Stephen Morton. 2008. Gayatri Spivak; Etika, Subaltern dan Kritik Penalaran Poskolonial. Terj. Wiwin Indiarti, SS, M.Hum. Yogyakarta: Penerbit Pararaton.
Multatuli. 2000 (Cet.8). Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Terj. H.B. Jassin. Jakarta: Djambatan.
Nieuwenhuys, Rob. 2019. Mitos dari Lebak. Terj. Sitor Situmorang. Depok: Komunitas Bambu.
Peransi, David Albert. “Max Havelaar, Mitos Belanda yang Membuat Kita Terkecoh”. jurnalfootage.net dalam https://sites.google.com/site/nimusinstitut/max-havelaar, diakses 15/09/2021.
Philpott, Simon. 2003. Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme. Terjemahan Zuly Qodir dan Uzair Fauzan. Yogyakarta: LKiS.
Said, Edward W. 1995. Kebudayaan dan Kekuasaan: Membongkar Mitos Hegemoni Barat. Terjemahan Rahmani Astuti. Bandung: Mizan.
Said, Edward W. 2003. Orientalism. London: Penguin Books.
Said, Edward W. 2010.Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek. Terjemahan Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saparudin, Endin (ed.). 2021. Manis Tapi Tragis. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.
Sastrowardoyo, Subagio. 1990. Sastra Hindia Belanda dan Kita. Jakarta: Balai Pustaka.
Toer, Pramoedya Ananta. “Best Story; The Book That Killed Colonialism”. The New York Times Magazine, 18 April 1999, Section 6, hal. 112, dalam https://www.nytimes.com/1999/04/18/magazine/best-story-the-bookthat-killed-colonialism.html, diakses 15/09/2021.
Waugh, Patricia.1984. Metafiction: The Theory and Practice of Self-Conscious Fiction. London & New York: Routledge.
Wikipedia. “Metafiction” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Metafiction, diakses 15/02/2022.
Wikipedia. “Uncle Tom’s Cabin” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Uncle_Tom’s_Cabin, diakses 03/07/2022.
Zook, Darren C. “Searching for Max Havelaar: Multatuli, Colonial History and the Confusion of Empire”.MLN 121 (2006), hlm. 1169-1189.

