Jika mencatat di ingatan, mustahil Anda ingat berapa kali Mister Presiden menyebut “Kita bangsa besar” saking setiap kali pidato ia melontarkan itu. Tetapi, lagi-lagi kita harus mencari dengan benar-benar apa yang dimaksud Mister Presiden tentang “kita bangsa besar”. Jika ia berbicara besar secara luasan wilayah, tentulah saya dan Anda akan sepakat dengan pernyataan tersebut. Tetapi jika ia berbicara tentang bangsa yang besar merujuk pada beberapa aspek yang mendukung pernyataannya—seperti 5 bangsa besar: Norwegia, Denmark, Luksemburg, Swiss, dan Singapura (mutu pendidikan tinggi, rakyat makmur dan sejahtera, kesehatan terjamin, perekonomian negara stabil, dan kebudayaan yang turut memengaruhi dunia luar sana)—jika ia merujuk tentang itu, saya dan Anda akan mengumpat setiap pidatonya yang mengusik kenyamanan itu.
Pendidikan saat ini sangat mengkhawatirkan, lebih mementingkan Makan Bergizi Gratis yang Anda ketahui menghabiskan anggaran begitu banyaknya. Dalam sebulan, MBG rasanya negara ini dapat menggelar 2–3 kali Piala Dunia. Bayangkan jika itu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan kita demi menunjang sumber daya manusia yang berkelanjutan ke depan. Tetapi apa yang kita harapkan dari negara berkembang yang seluruh sektor bisnisnya bergantung pada pemilik modal? Pemilik modal di negara ini masih membutuhkan banyak tenaga kerja dengan upah rendah demi saya dan Anda sekalian tidak berpikir kritis, dan para Mister-Mister sekalian dapat terus mewarisi kebodohan.
Membuat Anda sekalian sekaligus saya, yang memiliki gaji UMR, untuk makan ayam pun hari ini masuk kategori makanan mewah. Yang seharusnya makan ayam itu demi mencukupi kebutuhan protein harian Anda. Alhasil, ketika mendengar pidatonya “kita bangsa besar” sambil memakan sisa nasi, oncom, dan pucuk ubi ingin cepat-cepat mematikan televisi atau melempar gadget sejauh mungkin. Karena pidato itu tidak dapat mengenyangkan, tidak memberi harapan; ia membangun utopianya sendiri dengan besaran yang hanya ia tahu sendiri.
Rasanya jika Anda renungkan, ketika kita mendiamkan hal ini, seperti ada tumpukan emosi yang berdesakan ingin keluar dari dalam diri. Tetapi itu lekas saja saya dan Anda lupakan, alih-alih mentransfer rasa sakit pada luka yang telah membusuk di dalam diri. Luka yang dipupuk oleh Negara melalui kebijakan-kebijakan di luar nalar, yang terus memperparah luka di tubuh saya dan Anda.
Setelah bersusah payah saya mengorek ingatan dan memaksa hippocampus untuk mengeluarkannya kembali, sialnya ingatan tentang lagu itu terlintas. Sesaat Reels Instagram saya bergulir menuju pemantiknya—Mister Presiden yang berdiri di depan mikrofonnya itu menjadi lintasan lagu dari Koil, “Aku Lupa Aku Luka”. Setiap melihatnya, aku mengingat bahwa luka itu semakin menganga. Luka yang terus parah. Bagaimana tidak, setiap mendengar lagu Koil dan menyanyikan liriknya:
Mengatasi keputusasaan
Menyakiti diriku sendiri
Aku memacu seluruh waktu memburu jantungmu
Dan semua yang kujalani dan harapkan
Pada bagian ini, sontak saja semuanya secara gamblang dipereteli oleh Koil. Band di Indonesia yang pertama kali mengusung industrial metal ini masih setia hingga hari ini berdiri pada genre tersebut. Dalam penggambaran Koil, melalui musik kerasnya ia menampilkan sisi rapuh pada manusia. Ia berbicara soal maskulinitas non-gender—semua yang merasa merawat sisi maskulinitas yang harus terlihat kuat dan tegar meski hidup di negara yang sakit.
Ini tentu membuat saya dan Anda tertampar. Kita yang terus berupaya terlihat bahwa semuanya baik-baik saja, sementara yang kita sama-sama tahu bahwa ini telah merongrong di seluruh anatomi tubuh bak kanker. Ia tidak bisa terus kita sembunyikan, seperti kanker yang terus naik stadium. Bersiaplah kita akan sama-sama mampus dalam keadaan dinina-bobokan “kita bangsa besar”.
Meneriaki rasa sakit dengan begitu elegan, melunturkan sisi maskulinitas yang terus menuntut bahwa lelaki harus selalu kuat, dilarang untuk bicara tentang rasa sakit yang dideranya. Alhasil, kita menumpuk banyak luka yang akan membunuh secara perlahan.
Ternyata membuat kecewa
Pil pahit kegelapan akan mematikan rasa jiwa raga
Luka luka luka luka
Aku lupa luka luka luka luka
Kata luka yang terus berulang diteriakkan oleh Koil, membayangkan Otong berdiri di atas kasur yang sejak tadi menina-bobokan kita. Membayangkannya saja sudah membuat kita cepat-cepat berdiri, dan ingin berteriak bersama. Rambut panjang Otong yang menyapu kasur, berputar-putar menggeleng kepalanya ia melanjutkan dengan penutup dan merobohkan sisi maskulinitas yang terpelihara.
Menangis meratapi kebodohan memahami
Dan tinggalkan mimpi
Aku melantunkan lagu pedih menutup hatiku
Dan semua yang ku berikan dan serahkan
Dan pinjamkan takkan ku minta
Sebening kehampaan doa
Menghambarkan luka ka ka ka ka
Bagaimana pada lirik “Aku melantunkan lagu pedih menutup hatiku” Koil menunjukkan bahwa berteriak, mengungkapkan sisi luka itu. Dapat menghambarkan luka itu sendiri, seperti pada penutup lagu ini “Menghambarkan luka ka ka ka ka”.
Dari lagu “Aku Lupa Aku Luka” Koil mendobrak sisi nyaman saya dan Anda bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Seperti yang kita bahas di awal tulisan ini, saya rasa sudah sangat jelas. Bahwa Anda pun, berpura-pura kuat, tegar dan tetap mempertahankan sisi maskulinmu yang takut terlihat mengeluh, cengeng dan diduga begitu lemah.
Setelah pembahasan kita ini, sampailah pada kesimpulan apakah kamu juga menutupi luka, yang secara perlahan itu membuat kamu lupa?
Jika iya, apakah setelah ini saya dan Anda akan secara jujur keluar sebagai sebuah senjata api yang dipantik menggunakan mesiu?
Jika tidak, apa lagi yang ingin dipertahankan dari luka yang menganga ini, yang telah mendera seluruh tubuh Anda?
Jika hendak Anda keluar sebagai sebuah perlawanan, apa yang akan Anda lakukan?
Jika pada seluruh pemahaman Anda tentang pemberontakan adalah dengan cara-cara mengangkat senjata, tentulah Anda salah besar! Kaum Samin melawan dengan enggan membayar pajak pada kolonial saat itu.
Jadi? Anda seorang pengkarya? Pemusik, Perupa, Penulis, Jurnalis, Teateris, Filmis atau apa pun yang berkaitan dengan seni maka lawanlah dan lantanglah lewat karyamu.
Jika Anda, seorang manusia dan hidup di negara bernama Indonesia yang dipimpin oleh Mister Presiden Distopia, maka sadarilah dulu bahwa Anda juga berada pada ruang Distopia yang sama-sama mengurung kita pada nina-bobo “Kita bangsa besar”.
Setelah saya dan Anda keluar dari dunia Distopia, putarlah setiap hari lagu Koil “Aku Lupa Aku Luka” setiap kamu merasa ini baik-baik saja. Karena itulah alasan satu-satunya, untuk saya dan Anda mengabarkan kepada khalayak dan menjadi jembatan komunikasi bagi orang-orang yang tidak mendapat akses bacaan dan kesadaran kritis.
Lagu-lagu seperti Koil ini, seharusnya terus bertengger di puncak tangga lagu. Sebab itulah yang kita rasa, bukan lagu-lagu penghibur pengabur rasa lara.

